Mengetahui Syarat Sahnya Zakat Fitrah dan Zakat Mal

Syarat SahnyaZakat yang dikeluarkan oleh pemilik harta, baik zakatnya ternak, tanaman, harta dagangan, ataupun zakat fitrah, hukumnya sah apabila telah memenuhi syarat-syaratnya. Adapun syarat sahnya zakat adalah sebagai berikut:

1. Niat

Syarat sahnya zakat yang pertama adalah niat. Niat artinya pemilik harta atau yang mewakili pada saat menyiapkan zakat, saat memberikan zakat, telah niat berzakat. Pada saat niat, tidak diharuskan menentukan harta yang hendak dizakati. Apabila timbul keraguan tentang niat setelah zakat diberikan kepada golongan orang yang berhak menerimanya, maka hukumnya tetap sah. Sedangkan, jika zakat telah diberikan namun belum diniati, maka hukumnya tidak sah. Pemilik harta pun wajib mengeluarkan zakat kembali, dan status dari zakat yang telah dikeluarkan yang tanpa niat tersebut adalah shodaqoh.

2. Diberikan Kepada Orang yang Berhak Menerima Zakat

Syarat sahnya zakat yang kedua, yaitu zakat harus diberikan kepada orang/golongan yang berhak menerima zakat, yaitu ada 8 golongan atau disebut dengan ashnaf. Bagi para orang yang wajib mengeluarkan zakat, apabila zakat akan diberikan sendiri oleh pemilik atau wakilnya, maka pemilik diwajibkan terlebih dahulu meneliti orang-orang yang akan diberikan zakat tersebut. Karena apabila zakat diberikan kepada orang yang tidak berhak menerimanya, maka hukumnya tidak sah. Oleh karena itu, pemilik harta wajib mengeluarkan zakat kembali.

Untuk zakat fitrah, yang pertama diberikan kepada kerabat yang tidak wajib menafkahinya. Dimulai dari yang pertalian mahrom, seterusnya untuk yang tidak ada hubungan mahrom. Sasaran atau orang yang berhak menerima zakat fitrah adalah tidak berbeda dengan yang berhak menerima zakat mal. Adapun ayat yang menerangkan tentang orang-orang yang berhak menerima zakat tercantum pada Surat at-Taubah ayat 60:

 إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Artinya: “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang di perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Referensi: Imam, Abdul Hayi dan Muhammad Idrus. 2016. Fiqih Zakat. Cirebon: Mitra Pemuda.

 

Kunjungi juga:

Langkah-Langkah Menulis Jurnal yang Baik dan Benar

Sejarah Penulisan Hadis Rasulullah SAW di Zaman Sahabat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!