8 Etika Seseorang Terhadap Al-Qur’an yang Harus Diketahui

Etika SeseorangSeperti yang sudah diketahui, al-qur’an adalah termasuk kitab suci umat Islam yang harus dihormati dan dijaga kesuciannya. Seorang manusia harus menjaga etikanya bukan hanya kepada manusia, binatang, dan tumbuhan saja, tetapi ia juga harus bisa menjaga etikanya terhadap kitab sucinya. Adapun etika-etika seseorang terhadap al-qu’ran akan dijelaskan di bawah ini.

1. Mencium Al-Qur’an

Dianjurkan seseorang untuk mencium al-qur’an, karena al-qur’an dianalogikan seperti hajar aswad. Al-qur’an merupakan hadiah dari Allah SWT. karenanya dianjurkan untuk menciumnya, sebagaimana dilakukan terhadap anak kecil.

2. Memberi Wewangian

Dianjurkan seseorang memberi wewangian terhadap mushaf al-qur’an ini, karena al-qur’an merupakan kitab suci yang harus dijaga aromanya. Adapun jika aroma mushaf tersebut kurang enak, maka orang-orang pun akan malas membacanya.

3. Tidak Menjadikan Bantal

Haram bagi seseorang menjadikan al-qur’an sebagai bantal kepala yang biasa digunakan untuk tidur. Haram juga menjulurkan kaki ke arahnya.

4. Tidak Menggantungkan Al-Qur’an

Ibnu Abu Dawud mengatakan bahwa makruh hukumnya seseorang menggantungkan al-qur’an.

5. Menghias Al-Qur’an

Ada riwayat dari Al-Baihaqi, bahwa boleh menghiasi al-qur’an dengan perak, karena sahabat pada masa Ustman telah mengodifikasikan al-qur’an dan menghiasinya dengan perak. Sebagian ulama berpendapat bahwa kebolehan menghiasi al-qur’an tidak berlaku bagi sampulnya yang terpisah dari al-qur’an itu sendiri. Namun, berdasarkan pendapat yang paling jelas, tidak ada pengecualian dalam hal ini.

6. Tidak Menginjak Al-Qur’an

Bila terdapat potongan-potongan mushaf yang sudah rusak, maka etika seseorang terhadap al-qur’an tidak boleh menempatkannya pada tempat yang memungkinnya jatuh dan terinjak-injak. Tidak boleh juga merobek-robek lembaran al-qur’an, karena akan menceraiberaikan bagian-bagian ayat al-qur’an.

7. Membakar Al-Qur’an

Lembaran-lembaran mushaf yang sudah tidak terpakai hendaknya dicuci dengan air. Boleh pula dibakar, karena Ustman pun pernah membakar mushaf-mushaf yang di dalamnya terdapat ayat-ayat yang sudah dihapus. Sebagian ulama mengatakan bahwa membakarnya lebih baik daripada membasuhnya, sebab hasil basuhannya akan jatuh ke tanah.

8. Tidak Berhadas

Berdasarkan pendapat mayoritas ulama, diharamkan bagi orang yang mempunyai hadas kecil maupun hadas besar memegang kitab suci ini. Oleh karena itu, jika seseorang mempunyai hadas kecil, maka untuk menghilangkannya dengan berwudu. Sedangkan untuk hadas besar, maka menghilangkannya dengan mandi besar/wajib.

Referensi: Anwar, Rosihon. 1999. Mutiara Ilmu-Ilmu Al-Qur’an. Bandung: Pustaka Setia.

 

Kunjungi juga:

Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Seseorang Kurang Normal

Mengetahui Syarat Sahnya Zakat Fitrah dan Zakat Mal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!