Keadaan Pendidikan Islam di Zaman Reformasi (Bagian 4)

Pendidikan Islam

Berikut ini adalah keadaan pendidikan Islam di zaman reformasi bagian 4.

Keadaan Kedelapan

Penerapan manajemen yang berorientasi pada pemberian pelayanan yang baik dan memuaskan kepada para pelanggan sebagaimana yang terdapat pada konsep Total Quality Manajemen (TQM). Penerapan manajemen TQM tersebut didasarkan pada pandangan bahwa pendidikan adalah sebuah komoditas yang diperdagangkan. Agar komoditas tersebut menarik minat dan memuaskan pelanggan, maka komoditas tersebut harus diproduksi dengan kualitas yang unggul. Untuk itu seluruh komponen pendidikan harus dilakukan standarisasi, dan standar tersebut harus dikerjakan dengan SDM yang unggul, dilakukan perbaikan secara terus menerus, dan dilakukan pengembangan sesuai dengan kebutuhan masyarakat selaku pelanggan.

Berkaitan dengan ini, maka di zaman reformasi ini telah lahir Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

  1. Standar isi (kurikulum)
  2. Standar mutu lulusan
  3. Standar proses pembelajaran
  4. Standar pendidik dan tenaga kependidikan
  5. Standar pengolahan
  6. Standar sarana prasarana
  7. Standar pembiayaan
  8. Standar penilaian

Keadaan Kesembilan

Kebijakan mengubah nomenklatur dan sifat madrasah menjadi sekolah umum yang berciri khas keagamaan. Dengan ciri ini, maka madrasah menjadi sekolah umum plus, karena di madrasah (Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah) ini, selain para siswa memperoleh pelajaran umum sebagaimana terdapat pada sekolah umum, seperti SD, SMP dan SMU. Namun demikian, harus diakui bahwa di antara madrasah tersebut masih banyak yang memiliki berbagai kekurangan dan kelemahan, sebagaimana hal ini juga terdapat pada sekolah umum. Dengan adanya kebijakan tersebut, maka tidaklah mustahil jika suatu saat madrasah akan menjadi pilihan utama masyarakat.

Seiring  dengan lahirnya berbagai kebijakan pemerintahan tentang pendidikan nasional sebagaimana tersebut di atas telah disambut positif dan penuh optimisme oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama para pengelola pendidikan. Berbagai inovasi dan kreativitas dalam mengembangkan komponen-komponen pendidikan telah bermunculan di banyak lembaga pendidikan. Melalui dana bantuan oprasional sekolah (BOS) misalnya telah memberikan peluang bagi masyarakat yang kurang mampu untuk menyekolahkan putra putrinya. Selanjutnya, melalui progam sertifikasi guru dan dosen telah menimbulkan gairah dan perhatian para guru dan dosen tersebut untuk melaksanakan tugasnya dengan baik. Demikian pula melalui manajemen TQM telah lahir berbagai lembaga pendidikan Islam yang menarik minat dan favorit masyarakat.

Referensi: Nata, Abuddin. 2014. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana.

Kunjungi juga:

2 Macam Inteligensi dan Faktor yang Menentukan Inteligensi Manusia

Macam-Macam Profil Wirausaha dalam Dunia Entrepreneurship

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!